Nama : Maria Reni
Kelas : 3EA04
Npm : 14212428
SEMANGAT
UNTUK SEMBUH
Disini aku ingin menceritakan tentang kehidupan kakak ku
sebelum ia pergi jauh meninggalkan orang-orang terdekatknya. Kakakku bernama
Anastasia Ajeng, kakakku berumur 22 tahun dan ia tingkat akhir di Universitas
daerah Jakarta Selatan.
Pada saat kakaku duduk di bangku SMA, saat itu kakaku
sakit DBD dan harus segera dirawat di Rumah Sakit. Setelah dilakukan
pemeriksaan di lab ternyata kakakku di fonis penyakit kebocoran di jantung. Ibu
bapak serta keluarga pun kaget mendengar hal itu yang disampaikan oleh dokter.
Pesan dari dokter tidak boleh terlalu capek karna sekali capek akan sesak nafas
dan kakakku menuruti nasihat dari dokter.
Sekitar
pertengahan tahun 2013, kakak dan ibu pergi ke bali dengan rombongan sekolahan
ibu, saat sudah pulang ke Jakarta kakak ku mulai sakit panas. Kakak ku tidak
ingin periksa ke dokter mungkin karena sakit panas biasa dan dia hanya minum
obat penurun panas. Hal itu tidak membuat kakakku pantang menyerah untuk
kuliah, ia masih sama seperti dulu. Menjalani rutinitas seperti mahasiswa yang
lainnya. Saat sakit ia harus mengikuti PKL untuk mengajar murid-murid SMA di
sekolah negri, lalu malamnya ia harus mengajarkan
5 anak SD di rumah.
Bulan
desember 2013, saat malam hari kakaku sempat drop lalu dibawa ke Rumah Sakit di
daerah Jakarta Timur dan dilarikan ke UGD setelah diperiksa oleh dokter
ternyata HB-nya turun menjadi 5 dan terpaksa di rawat inap. 4 kantong transfusi
darah yang ia terima dan dimasukan kedalam tubuhnya lewat infusan. Setiap malam
ia sering merasakan kedinginan sehingga tubuhnya mengigil. Setelah hampir 2
minggu ia di rawat akhirnya ia pulang ke rumah dan hasilnya membaik. Tetapi hal
itu tidak membuahkan hasil lebih baik, bulan Januari 2014 kakakku masuk rumah
sakit lagi karena penyakitnya kambuh. Semakin hari berat badan kakaku turun dan
menjadi kurus.
Suatu hari ia diajak tante ku untuk pergi berobat
alternatif, Ia diberikan minyak untuk dioleskan dikakinya secara rutin, setelah
ia memakai minyak dikakinya tidak disarari kakinya kian membengkak dikarenakan
terjadi pembengkakan darah di kakinya sehingga ia susah untuk berjalan. Kakinya
juga muncul bintik-bintik merah seperti habis di gigit nyamuk tapi tidak terasa
gatal. Semakin lama bintik merah itu semakin banyak di kaki serta tubuhnya.
Juni
2014, kakakku pergi ke jogja untuk mencoba berobat alternatif disana. setelah 2
hari di jogja tak disangka kakaku kambuh lagi penyakitnya, dan om ku menyuruh
untuk rawat inap di rumah sakit tetapi
kakakku tetep kekeh ga mau di rawat tetapi om ku terpaksa membawanya ke salah
satu rumah sakit di jogja, setelah mendapatkan kabar tersebut ibuku segara
pergi ke jogja menyusul kakaku ke jogja menggunakan pesawat terbang, kemudian karena alat medis di rumah sakit
tersebut tidak lengkap dan dokter yang menangani kakakku dinas di salah satu
rumah sakit besar di jogja, kakakku di bawa ke rumah sakit tersebut. Disana ia
merasa kesepian dan ia minta aku datang, seketika aku datang wajah ia senang
karna aku datang menjenguknya dan aku menginap di rumah sakit. Aku ditunjukan
selang dibagian dadanya oleh kakaku setiap 6 jam sekali cairan di jantungnya
disedot menggunakan suntikan, banyak cairan yang di ambil soalnya terlalu
banyak cairan di dalam kantong jantungnya.
Kakak sepupuku menyuruh kepada ibuku untuk memindahkan
kakaku di rawat di rumah sakit kisaran karawaci karena kakak sepupu ku kerja di
rumah sakit tersebut. Pada hari yang
sama akhirnya kakaku dibawa ke Jakarta menggunakan mobil pribadi, sepanjang
perjalanan ia memakai selang oksigen saat sampai bandung tabung oksigen habis
terpaksa mengisi dahulu soalnya perjalanan masih sangat panjang.
Saat
sampai di rumah sakit itu kakaku langsung memasuki ruang inap. Besokannya aku
mendapat kabar dari ibu kalau kakakku sempat tidak sadarkan diri dan aku segera
berangkat ke sana. Setelah aku sampai aku melihat kakakku tidak sadarkan diri
di tempat tidurnya disitu aku sedih melihat kakakku tidak sadarkan diri. Segera
perawat-perawat lainnya membawanya ke ICCU, waktu jam besuk aku memasuki ruangan
iccu aku melihat kakakku memakai selang dimulutnya, hidungnya, dan dadanya aku
menangis melihat kakakku sepeti itu, di luar aku berfikir yang gak gak tentang
hal itu dan berharap keajaiban datang untuk membangunkan dari komanya.
Seminggu
bertepatan 11 juni ia berulang tahun keajaiban belum datang. Akhirnya setelah
ulang tahunnya kakakku bangun dari komanya. Saat ia bangun dari komanya pacar
kakakku berada di sampingnya, dan mendapatkan hasil gerakan respon dari
kakakku. Setelah itu kakakku di periksa dan ternyata hasilnya kakakku terkena
penyakit lupus, lupus penyakit yang bisa mematikan dan wujud dari lupus
beda-beda. Kata dokter kakakku sudah komplikasi di jantung, dan saraf-saraf
sudah terkena virus yang menyebabkan kakakku menjadi suka lupa. Dokter
menganjurkan segera melakukan operasi untuk memasang ring di jantung setelah
penyakit lupusnya sembuh.
Sudah
2 bulan kakakku berada dirumah sakit tersebut dan kondisinya jauh lebih baik
dari sebelumnya. Banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan seperti selamanya
tidak boleh terkena matahari kalau mau berjemur harus di bawah jam 7 pagi dan
tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Setelah 2 bulan di rumah sakit
tersebut dan kondisinya membaik kakaku di izinkan pulang tetapi harus rawat
jalan juga. Dokter juga mengusulkan untuk check up ke rumah sakit khusus
jantung, sudah 2 kali ia pergi kesana tapi selalu tutup.
Kakakku
banyak sekali cerita dan keluh kesa selama di rumah sakit serta obat-obat yang
terlalu banyak dan mahal setengah obat bisa menghabiskan biaya yang cukup
lumayan. Dan biaya rawat jalan juga tidak murah. Apa lagi kata dokter 1 obat
lupus sangat mahal sekitar 100juta-an tetapi dokter tidak yakin obat itu dapat
100 persen dapat sembuh total.
Satu
hari sebelum kakakku pergi ia membeli banyak sekali makanan dan dia makan
cireng banyak sekali tidak seperti biasanya, dan dia juga mengajak aku ingin
mendirikan bisnis kartu udangan. Aku melihat raut wajah kakakku beda gak kaya
biasanya, dan dia bilang kalau akhir-akhir ini (seminggu sebelum meninggal) dia
merasa ngantuk dan tidur terus. Dia juga bilang kalau ia ingin mengajukan judul
skripsi ke kampus dan gak mau cuti lagi.
Besok
paginya tepat 13 september, kakakku tiba-tiba kejang-kejang sehingga dilarikan
ke rumah sakit yang pertama, aku milihat dia sedang ditangani di ugd dan aku
lihat banyak darah yang keluar dari mulutnya, setelah dia sedikit sadar segera
dilarikan ke iccu. Aku hanya bisa melihat dari ruang ruangan kondisi dia. Aku
berdoa kepada Tuhan untuk diberikan jalan yang terbaik untuk kakakku. Beberapa
menit kemudian aku masuk ke ruangan dan ternyata nyawa kakakku sudah tidak bisa
tertolong lagi.
Setelah kakakku pergi banyak pesan dan banyak kenangan
yang terjadi.
Didalam tulisan non ilmiah ini menggunakan
penalaran induktif